Senin, 12 September 2016

Kami Butuh Realita - Pemimpin Ideal

Bicara tentang pemimpin ideal bagi negeri kita ini, pasti tidak ada habisnya. Yang dimulai ia berkoar-koar menjanjikan rakyatnya “ini-itu” hingga ia terpilih dan hanya melaksanakan pekerjaannya yang “itu-itu saja” sampai lupa dengan janji-janjinya. Tak hanya satu atau dua pemimpin rakyat di Indonesia, namun banyak dari pemimpin-pemimpin di Indonesia ini yang hanya tebar pesona diawalnya. Mulai sikap yang terlihat (sok) bijak, lemah lembut ramah didepan masyarakat, hingga ikut turun kerja bersama masyarakat seperti mengadakan gotong royong bersama dengan beberapa lingkup RT dibeberapa tempat. Kegiatan mereka yang seperti itulah yang dinamakan sandiwara diawal. Kami tak butuh sandiwara, kamu butuh realita yang sebenarnya!
Setiap pemimpin selalu mempunyai visi misi yang akan dijalankannya ketika ia telah mendapatkan jabatannya. Sebelum itulah terkadang pemimpin terlalu banyak bersandiwara kepada masyarakatnya. Dari kalangan atas hingga kalangan menengah kebawah akan ia jelajahi demi kepemilihan kepemimpinan yang baru dan ingin ia peroleh. Entah apa yang ada didalam fikiran mereka untuk menginginkan maupun mengelola kota, provinsi, ataupun negeri ini. Sandiwara dan bincangan manis yang ia paparkan pun tak segan-segan menarik hati kita. Perkataannya yang begitu manis telah membumbui hati khalayak luar hingga terpikat kepadanya.
Perkataan manis dari mana yang mereka buat sampai memikat hati masyarakat pun kita tak tau. Entah belajar darimana sandiwara yang mereka peragakan sebelum menjabat pekerjaan yang mereka inginkan itu. Kami semua manusia yang berakal, berbudi luhur dan pekerti, mempunyai moral dan agama. Kami menginginkan pemimpin yang tak hanya umbar janji manis dan perlakuan kritis yang sesaat. Kami membutuhkan pemimpin yang tau akan pemanis kata yang tak kami butuhkan, namun pergerakan yang ia lakukan buat kami itu mengubah hidup kami. Kami menginginkan pemimpin tak obral sandiwara kebijakan.
Pemimpin yang kami harapkan selama ini adalah pemimpin yang melaksanakan apa yang ia janjikan. Pemimpin yang tak hanya memikirkan dirinya sendiri atau biasa disebut egois. Kami ingin pemimpin mengerti apa yang kami inginkan apa yang kami harapkan. Ya, perubahan dan perbaikan ekonomi kami, menaikan taraf derajat dan martabat Indonesia di kancah internasional, memperbaharui sumber-sumber daya yang telah rusak. Memperluas lapangan kerja. Memperkuat keamanan dari segala muara bahaya yang mengancam negeri maupun  masyarakat di Indonesia. Tegakan keadilan yang ada. Yang salah tetaplah salah, yang benar tetaplah benar. Jangan jadikan semua itu menjadi hal kebalikan dan membuat rakyat Indonesia yang tak bersalah terjerumus dalam lobang yang tak seharusnya menjatuhkan dirinya. Tak ada kata “dimana ada uang, disitu ada jalan”. Kami membutuhkan “dimana ada keadilan dan kebenaran fakta, disitu kami membenarkan”. Tak ada lagi tipu daya muslihat dari politikus yang menggenggam banyak recehan. Pajak tetaplah pajak, pajak tetaplah harus dibayar tanpa mengurang-kurangi biaya yang ada. Tanpa mengada-ada data yang ada. Perbedayaan budaya biarkanlah menjadi ragam dan budaya, bukan menjadi ajang perkelahian dan pemutus silahturahmi antar warga dan masyarakat sekitar. Pendidikan merata tanpa pandang bulu. Kesehatan bagi seluruh warga, penyakit yang segera diatasi, tanpa memikirkan bisnis didalamnya. Korupsi bukanlah budaya kami, kami tak pernah sedikit pun mencantumkan bahwa korupsi budaya Indonesia. Kami butuh pemimpin yang tak memikirkan “bisnis” didalam pekerjaannya.
Pemimpin tetaplah memimpin, mengarahkan bawahannya untuk mengerjakan sebagian dari pekerjaanya dalam mencapai tujuan. Menuntun bawahannya kejalan yang benar, mengatur kepemerintahannya dengan baik. Mengatur bawahan dengan baik dan benar, mengarahkannya akan membuat kepemimpinan menjadi lebih mantap. Pemimpin yang baik harus bisa mengendalikan orang-orang dalam bagiannya, agar apa yang ia rencanakan bersama anggotanya dan juga masyarakat luar, bisa berjalan seperti yang ia inginkan maupun orang lain inginkan.
Masyarakat Indonesia tak hanya krisis ekonomi sekarang ini. mereka tak hanya membutuhkan makanan untuk menghidupi dirinya sehari-hari. Kami disini juga krisis akan keadilan dengan orang-orang berkuasa diluar sana dan semena-mena kepada kami para kalangan bawahan. Mereka hanya memikirkan diri mereka sendiri tanpa memikirkan kami. Kami tak butuh orang-orang yang seperti itu. Kami juga krisis akan pendidikan dan kesehatan. Pendidikan dan kesehatan kami seperti ajang bisnis buat mereka. Siapa yang membayar itu yang didahulukan. Kami ingin ilmu dan kami juga ingin sehat. Kami para kalangan apa daya dengan uang-uang yang ada dimuka bumi ini dan tak sempat kami peroleh. Mereka para pejabat atas selalu bilang “pendidikan dan kesehatan bagi seluruh rakyat tanpa terkecuali” namun nyata yang kami peroleh sungguh berbeda jauh dari yang mereka bilang. Kami butuh realita, bukan umbar janji dan obral sandiwara semata!
- See more at: http://siperubahan.com/read/2844/Kami-Butuh-Realita#sthash.8psHx8Zj.dpuf


Kita Butuh Realita

Kamis, 26 November 2015

Iri

"Hai.."
"Hai juga..:)"
"Kamu lagi ngapain,nih?"
"Aku mau pergi nih, bareng keluarga aku.."

Ada satu hal yang terfikir dalam benatku. Yang selalu mencuat-cuat tidak karuan ingin diungkapkan. Ya Tuhan, kapan aku bisa seperti itu lagi. 
Bukan diriku merasa tak puas ataupun tak bersyukur, namun diriku hanya ingin merasakan hal seperti itu lagi. Bukan diriku merasa bahwa aku adalah orang yang menyedihkan, orang yang tak merasakan kasih sayang bersama lagi(?) 
Ah,entahlah. Mungkin hanya perasaanku saja. 

Hari berganti hari. Waktu berjalan melaluiku. Waktu semakin berjalan dengan cepat. 
Ya Tuhan, aku rindu.. Aku rindu lagi. Kapan lagi bisa seperti itu...
Jika waktu diulang,atau benar adanya reinkarnasi, disaat itu akan kugunakan waktu yg tak akan ku sia-siakan sedetik pun. 

"Aku mau pergi nih, bareng keluarga aku.."

Ingin rasanya seperti dirimu. Ya. Merasakan kelengkapan keluarga, kehangatan bersama, kasih sayang yang tak putus..

Andaikan waktu benar bisa diulang atau adanya reinkarnasi, disaat itu juga akan gunakan waktu sebaik mungkin, takkan sedetik pun ku sia-siakan.

"Maa.. Ayo foto dulu.. Senyum ya maa, aku masukin ig nih.."
"Maaa foto dong, sekali aja kalo mama gamau banyak-banyak"
"Bu tangannya ciss gtu dong ma.."
"Makkk, pasang gaya cherrybelle dongg hahaha"

Hatiku tersenyum kecil. Bibirku merajut bentuk bulan sabit. Iya, bulan sabit muncul saat gelap malam yang kelamkan. Ya seperti itulah suasana hatiku.

Lagi-lagi, butiran-butiran itu jatuh lagi.

Yaelah... Minta tisu dong hmm

Kamis, 10 September 2015

Maapkeun, kakak

Kesel. Suer. 
Pernah kan kalian rasain, berasa seperti adek yang tertindas atau ngerasa seperti babu? Atau apalah itu. Terkadang juga mikir, kenapa harus muncul makhluk kayak gini? Kayak semena-mena banget, seenaknya mentang-mentang lebih tua gitu?

Kakak. Iya, entah laki atau perempuan.
Pikiranku disaat aku mempunyai kakak, aku hanya berfikir, mungkin kalo punya yang laki enak ya? Hii jadi anak satu-satunya kayak anak A atau B kayaknya enak semua dituruti apa yang dimau enak banget..

Kita selalu berfikir dan selalu menginginkan apa yang orang punya. Kita tak pernah berfikir yang sebenernya apa yang ada dalam diri kita. Kita selalu tak pernah puas/bangga dengan apa yang kita punya. 

Think again!
Pernah berfikir berapa beruntungnya sih kamu punya kakak/adek? That's right! Mereka semua saling membantu, dan saling mengasihi. Dalam suatu hal yang aku fikirkan, aku bete banget sama kakakku. Kesel banget. Apalagi disaat dia nyuruh gatau diri, contohnya:
"Kalo habis makan tuh cuci piringnya dek"
"Iya, mbak" 

Keesokan harinya, piring yang habis dipake Dia malah gak dicuci. 

Kesel? Iya! 
Kita udah nurut gitu ya, malas cari ribut. Eh gatau nya berasa jilat omongan ajatu orang ngeselin banget kan ya. 

Tapi disuatu titik aku menemukan. Disuatu celah aku juga melihat. 
Sebenernya bukan kesel atau apalah itu. 
Bener memang kata-kata orang. 
"SALING MENGERTI"

Penyebab orang menyebalkan itu cuma ada dua, kalau gak karna dia lagi ada masalah ya lo nya sendiri yang bikin dia bete. Kalo cewek yang bete, hehehe rumit ceritanya panjang, apalagi kalo lagi pms. 

Bayangin deh gimana rasanya kalo kita bisa jadi orang penyabar dan saling ngerti. Betapa tentremnya hati kita gaes. Bayangin nih ya, contoh:

"Dek, ambilkan sisir ya!"
"Iya mbak..."
"Dek buatkan teh untuk tamu yaa"
"Iya mbak..."
"Dek sapu rumah ngepel lantai yaa"
"Iya mbakk"
"Jangan lupa...." blablablabla

Bayangin deh, selama kamu sering disuruh, diobrak abrik sama kakak-kakak kalian. Ya intinya kamu nurut deh. Apa yang akan kalian terima? Bayangindeh, selama ini.. Selama kamu dengan kakakmu. 


Yak! 




Pasti kakakmu akan sadar, kalo lo tu baik! HAHAHAHA 


gak, bukan itu pointnya. 


Point nya adalah pasti kakakmu akan baik juga ke kamu. Memang, apapun itu yang awalnya menyakitkan memang gak enak, tapi akhirnya pasti bahagia. Percayalah, semua yang kamu lakukan itu tak pernah sia-sia. Semua pasti ada sesuatu yang bisa dipetik walopun sekecil apapun. 

Kadang aku berfikir, andai aja aku gak punya kakak? Gimana nasibku? Siapa yang nemeni aku? Yang ajak ngobrol? Yang ngasi tau tentang segala hal yang belum kutau. Dan posisiku disini tak ada seorang ibu. Siapa yang masaki aku, yang kutanyai tentang halangan dan segala pakaian-pakaian atau apalah itu. 

Serius. Gak ada yang sia-sia. Berkali-kali aku disuruh ini itu, sebenernya jengkel banget. Kenapasih gak dia aja atau gimana. Tapi kupikir-pikir, mungkin disini kalik ya dimana kita di tes biar besar nanti jadi orang yang sabar. Gak pas besar aja, mulai dari sekarang. Di bimbing jadi orang yang sabar, yang kuat, rajin, tekun, teliti. Gak jadi cewek yang cuma bisa main hape, foto-foto selfie, update sosmed marah2 dan sebagainya.


Tetapi, sejujurnya.. Se bener-benernya atau sebohong-bohongnya perkataan ini, yang paling bener adalah kayak orang munafik nulis beginian ehehehe.

Tapi, kalau kakakku baca tulisan ini. Cuma mau bilang, makasih mbak yaa selama ini suda nerima aku jadi adekmu hehehe. Bandel bangetlah aku ini, bisa buat kamu marah sampe nangis pun pernah. Miane. Sebandel-bandelnya adek, dalam lubuk hatinya itu sayang banget sama kakaknya. Miane unni..

Minggu, 21 Desember 2014

hai duapuluh dua

Selamat Hari Ibu...

Iya. Selamat hari Ibu. Untuk hati ini yang terdalam, ingin sekali untuk mengulang tanggal ini sebelum ibuku tiada. Ingin sekali untuk mengucapkan kedua kalinya sebelum ia menutupkan matanya. Hati ini terasa keluh. Sakit rasanya menahan rindu kepada ibu.

Pernahkah kamu berfikir bahwa esok ibumu akan tiada?

(21 Desember 2012)
Hari itu aku dan ayahku sedang perjalanan menuju Balikpapan. Dari Bontang mungkin ada 5jam. Ditambah dengan macet dan semacamnya mungkin ada 6jam. Hari itu terasa sangat runyam. Macet. Iya. Jam terbang untuk ke Surabaya pukul 21.00 WITA.
Tak hanya diperjalanan menuju Balikpapan. Dibandara pun kendal menghampiriku. Delay. Ya pesawat kami di delay. Delay diluar maupun didalam pesawat. Iya, kita sudah sangat lama menunggu di ruang tunggu, ketika masuk pesawat kita tetap menunggu. Emosi tak terkendali. Saat itu, aku tak tau apa yang ayahku fikirkan. Hanya satu percakapan yg membuatku bertanya-tanya ada apa sebenernya.

"Jangan beri saya apapun kabarnya. Biarkan saya berjalan dengan tenang ketempat tujuan"

Aku hanya terbungkam diam ketika mendengarnya.

Sesampai dibandara, kendala pun masih datang menghampiriku. Charter-an ku membuatku menunggu sangat lama. Ayahku mulai kesal. Jam menunjukkan pukul 23:39 WIB. Kantuk dimata ini tak terasa karna ketegangan ayahku yang kulihat. Kami memutuskan untuk menggunakan bus. Tetapi kendala itu tak berhenti sampai disini....

PRAAKKKKKKKK!!!

suara pecahan kaca dan guncangan bus terjadi. Bus yang kutumpangi tertabrak dengan bus yang berusaha membalap bus yg kutumpangi. Takut. Iya, tapi kututupi ketakutan ini.
Dengan tekad demi menemui ibuku, kami berusaha untuk tetap mencari bus yang ada.

22 Desember 2012, 01.35 WIB

Aku dan ayahku pun menemukan bus. Walaupun harus berdesakan tapi tak papa. Ayahku memelukku dengan erat agar aku tidak terjatuh dari desakan yang ada didalam bus ini. Posisiku pun juga berada di pintu bus yang terbuka lebar. Menahan  lelahnya dari Bontang - Balikpapan lalu dilanjutkan dengan naik bus ke Tulungagung dengan perjuangan seperti ini membuat aku semakin lelah. Mata ini mulai berat ingin memejamkan sejenak. Tetapi apa daya jika aku bertidur sambil berdiri dengan desekan seperti ini. Sejam kemudian akupun bisa mendapatkan tempat duduk bersama ayahku. Ya, tepat disebelah kiri ku jendela yang terbuka. Setidaknya jika tak ber-AC ada angin yang masuk dari luar.

-------------------------------

22 Desember 2012, 06.00 WIB

Perlahan aku membuka mataku dan mengumpulkan semua nyawaku. Terasa semilir angin dari luar dan sejuknya embun pagi desa. Tulungagung.

Mimpi buruk.

Tak ada seorang pun yang ingn kehilangan orang yang ia sayangi. Sekali lagi kuingatkan. Apakah kalian pernah berfikir bahwa esok ibu kalian tiada? tentu tidak. Dan pernahkah kalian bayangkan bahwa ibu kalian akan menutup dan menghembuskan nafas terakhirnya didepan kalian? Tentu tidak. Siapa yang mau seperti itu? Tidak ada.

Tepat dihari ibu, pukul 17.00 WIB ibuku pergi didepan mata ayah, kakak, bude, pakde, dan aku. Tepat sebelah kanannya kakak dan aku, sebelah kiri ayahku. Awalnya menahan tangis itu susah. Tapi apa daya jika semuanya menangis. masih kuingat jelas, aku berusaha mengucapkan "Selamat hari Ibu" yang sebelumnya tak pernah kuucapkan selama aku hidup bersama ibuku. Maafkan anakmu ini yang baru saja mengucapkannya setelah kau menutup mata untuk selamanya.
memang benar, penyesalan itu selalu datangnya di akhir. Sedih. Sangat sedih rasanya jika aku harus meningat wajah ibuku. Badannya kurus, sangat kurus. Kanker itu sangat jahat. Tubuh ibuku semakin kecil tak berdaya karna kanker itu. Makan dan menelan setegak air pun tak bisa. pernah kau lihat bahwa ibumu harus kau usapi dengan setetes air? Ya , benar ini setetes air yang betul-betul setetes. Hanya susu asupan gizi ibuku sebelum ia meninggalkanku. Padahal beberapa bulan yang lalu ibuku masih bisa berjalan keliling kampung, menaiki motor keliling kota. Pernah akan berfikir tentang ajal yang bisa menjemput bu atau dirimu kapan saja? Tentu tidak. Aku masih ingat ketika ibuku sudah tidak kuat untuk berdiri dan berjalan. Seberusaha mungkin ia harus bisa jalan, ia pun meminta tolong padaku sebagai tumpuannya. Kakinya seperti mati rasa. Digerakkan maupun dicubit pun tak terasa. Ia menangis didepanku. Disaat itu aku dan ibuku yaki bahwa ibu pasti bisa melewati ini. Ibuku selalu memberiku pesan.Disaat ibuku memberiku pesan, ia selalu saja tak berhenti menangis. Ia selalu takut jika ia nanti tak bisa menemaniku sampai aku dan kakakku lulus kuliah. Dan ya, itu terjadi. Kakakku belum lulus kuliah dan aku belum lulus SMP dan buku tiada sekejap didepan mataku. Dengan hembusan nafasnya yang santai dan menutup mata seperti orang tertidur. Percaya tak percaya aku melihat ibuku meningal didepan mataku. Aku merasa ibuku tak meninggal. Semakin sakit rasanya melihat orang-orang sekelilingku ikut menangis. Menit-menit terakhirk bersama ibuku, aku hanya bisa mengelus rambut dan melihatnya. Orang-orang disekelilingku hanya melihatku dengan tampan sedih dan kasihan kepadaku dan kakakku. Ingin rasanya berteriak sekuat-kuatnya disaat itu. Tapi aku tak bisa berteriak dan hanya bisa mengucapkan "Selamat Hari Ibu" dengan sangat terlambat itu. Bu, maafkan menjadi anak yang jahat ini. Selalu gengsi hanya untuk mengucapkan Selamat kepadamu. Dulu, sering sekali kau memelukku dan terkadang aku menolaknya, tapi kini...biarkan saja kau memelukku, berusahalah sekuat tenagamu agar kau memelukku. Ibu, kuatkanlah dirimuuu.
Dulu juga aku ingat ketika ibuku mandi. Dulu ibuku masih kuat untuk berjalan kekamar mandi. Tetapi, beberapa bulan kemudian. berusaha ke WC untuk buang air besar pun tidak bisa. Sedih melihat orangtuamu harus melakukan semua aktivitasnya di atas kasur.

Jangan pernah kau membuat tangis dimatanya, dengarkanlah nasihatnya. Jangan sakiti ibumu, fisik maupun batin. Karna penyesalanmu akan berada diakhir.

----------------------------

bu, dua tahun sudah kau pergi. selalu kuingat tanggal dan bulan ini. dimana kau pergi secepat ini. sesusah apapun yang kau alami didunia ini. tetapi aku yakin, dirimu pasti berada ditempat terindah dan ternyaman. bu, aku rindu padamu. terkadang dalam sepiku, aku memikirkanmu. mengapa ibuku harus pergi secepat ini? aku ingin ibuku. terkadang iri rasanya melihat anak-anak yang lain masih bisa merasakan masakan ibunya, sedangkan aku tidak. iri rasanya bisa berfoto bersama ibunya dan aku tidak. iri rasanya ketika kelulusan bersama kedua orangtuanya dan aku tidak. iri rasanya dijemput orangtua dan aku tidak. iya, begitu banyak iri dihatiku. ingin berjalan bersamamu lagi. Selamat Hari Ibu...ibuku yang cantik berada di surga sana:)

Sabtu, 21 Desember 2013

seuntai rindu untuk Ibu

selamat pagi Ibu, apakah disana matahari berwarna sendu? Ini anakmu
anakmu yang telah kau didik, kau besarkan dan kau bimbing
selamat pagi bu, apakah dirimu masih ingat ketika kita bersama?
berkumpul bersama, bercanda tawa dengan Ayah dan Kakak
sedih, senang, duka, kita lalui bersama

Ibu...
masih ingatkah kau denganku?
anak kecilmu yang selalu bertingkah menjengkelkan, menyebalkan
tetapi apakah dirimu ingat?
dirimu tetap sabar, dirimu tetap memberikan senyuman indahmu
terus membimbingku untuk menjadi lebih baik

Ibu...
masih jelas difikiranku
masih teringat jelas wajahmu, bayangmu yang selalu menghantui hari-hariku
masih terasa kehangatan dari tubuhmu
masih terngiang alunan suaramu yang lembut, menggema ditelingaku
dan masih teringat, senyuman hangat yang selalu kau suguhkan kepadaku

dan apakah Ibu tau?
aku rindu saat-saat itu
aku rindu disaat semua itu ada
aku ingin semua yang kita lalui bersama terulang kembali

kau usap kepalaku dengan lembut
kau kecup kening ini dengan mesra
kau peluk aku, kau dekap aku dengan penuh kehangatan
kau hampar selimutku, ketika malam tlah tiba
ya, dirimu memang selalu ada untukmu

Ibu...
kepergianmu begitu cepat bagiku
semua senyumku kini berubah menjadi tangis yang tak henti
sekarang apa?
kita sekarang tlah berbeda alam
belum sempat diriku membuatmu bangga terhadapku
Bu, maafkan anakmu yang tak sempurna ini,Bu

dan sekarang, ku hanya bisa mengenangmu
mengenang ketulusan hatimu terhadapku
mengenang semua cerita yang kita lalui bersama
waktu mengingatkanku bahwa dirimu memang bukan milikku
tetapi Tuhan memang memilikimu

Bu...
terimakasih, terimakasih atas segalanya yang kau berikan kepadaku
kini kau telah memberikan sebuah pelajaran terhadapku
didunia tak ada yang kekal maupun abadi
dan dirimu, tlah membuatku belajar menjadi anak yang tegar, sabar, dan ikhlas
memang, sekarang kita sangatlah jauh
tetapi aku yakin,walaupun Ibu tlah tiada
Ibu akan selalu berada disisiku
selalu mengikutiku dan akan selalu ada didalam hatiku


untukmu yang kucinta dan kusayangi
Ibuku, semangatku

Selasa, 23 Juli 2013

penyesalan(?)

Sudah beberapa hari ini, hujan mengguyur kotaku. Kota tercintaku dimana aku berpijak sekarang. Setiap pagi sepiku disambut oleh datangnya hujan yang ramai riuh datangnya. Hari sepi, iyaa, aku masih tetaplah sendirian, aku masih bersama bulekku setiap malam, aku masih bersama temantemanku disaat pagi(sekolah), dan aku masihlah tetap semangat.
Dihari sepiku, aku lebih banyak meluangkan waktu dikamar. Terkadang, sekilas aku terbayang akan masa-masa lalu yang rutin aku lakukan. Terbayangkan akan masa indah yang aku lalui bersama, masa dimana terkadang aku menjadi anak yang menyebalkan dan ingin berubah menjadi anak yang solehah. Satu kata yang singkat, padat, jelas, dan terukir kasar menumbuhkan sejuta penyesalan adalah "kenapa kemaren aku kayak gitu?" Ukiran penyesallan ini masih saja tersimpan dalam benatku. Dan aku masih berusaha memperhalus ukiran itu dengan gosokkan yang lembut, perlahan tapi pasti. Ketika aku mengingat kembali, masa masa yang lalu, masa masa dimana aku selalu membantah kata orangtua dan berujung dengan penyesalan, satu kata yang mematung dikepalaku "bodoh". Iyaa, aku merasakan betapa bodohnya aku yang tidak mendengarkan kata orang tua dan berujung dengan penyesalan yang masih belum tau ujungnya. Aku ingin merubah ukiran kasar ini, tapi....terlambat. kata merubah itu sudah sangatlah terlambat, basi, omong kosong, kenapa gak dari dulu coba merubahnya, jah? Hatiku bergelumat kekesalan yang percuma, ingin menjerit tapi percuma, ingin menangis tapi untuk apa? Percuma, jah. Sekeras apapun kamu menjerit, sederas apapun kamu menangis, tak ada yang mendengarmu jah, tak ada yang mau. Karna, kamu menangisi penyesalan. Ini semua salahmu, kenapa tidak dari dulu menganggap setiap menjalani kesalahan kamu harus lakukan perubahan segera. Kenapa juga tidak daridulu menganggap bahwa setiap perjalanan hidup itu cukuplah sebentar? Kenapa tidak daridulu............ Penyesalan yang kamu buat itu cukup berat,jah. Karna apa? Penyesalan yang kubuat adalah penyesalan karna sikapku terhadap almh.Ibuku
Aku yang dulu terkadang berbohong,
Aku yang terkadang membantah,
Aku yang terkadang tidak nurut,
Aku yang terkadang menyebutkan 'ahh sbentar, ahh sibuknah, dan ahh yang lainnya'
Aku yang sangatlah malas jika disuruh membantu
Aku yang tidak pengertian terhadap ibuku sendiri
Aku, aku, aku yang menyesal sekarang karna telah melakukan itu dan ingin merubah tetapi ketika aku ingin menunjukan perubahan agar orang itu memaafkanku orang itu telah lah tiada. Memang, semua ibu selalu memaafkan kesalahan anaknya, seorang ibu yang selalu sayang terhadap anaknya, yang selalu membela anaknya, dan tak mau anaknya susah. Dan sedangkan aku, aku yang menyusahkannya. Sungguh, anak durhaka kah aku termasuk didalamnya? Naudzubillahiminzalik ya Allah, maafkan lah hamba mu ini, sungguh diriku khilaf ya Allah
Dan kini, penyesalan itu sedikit menjadi lebih halus dari sebelumnya. Jika bisa aku balik ke masa lalu, takkan pernah ada penyesalan ini datang ke kehidupanku sekarang Satu satunya sekarang ini aku terus berdoa, aku terus berusaha lebih mendobrak diriku yang lalu menjadi diriku yang lebih baik dari sbelumnya. Jika aku tak bisa membahagiakannya ketika ia hidup, jadi aku tak boleh mengulang ke kedua kalinya di orang tuaku yang satunya, yaitu bapakku....