Bicara tentang pemimpin ideal bagi negeri kita ini, pasti tidak ada habisnya. Yang dimulai ia berkoar-koar menjanjikan rakyatnya “ini-itu” hingga ia terpilih dan hanya melaksanakan pekerjaannya yang “itu-itu saja” sampai lupa dengan janji-janjinya. Tak hanya satu atau dua pemimpin rakyat di Indonesia, namun banyak dari pemimpin-pemimpin di Indonesia ini yang hanya tebar pesona diawalnya. Mulai sikap yang terlihat (sok) bijak, lemah lembut ramah didepan masyarakat, hingga ikut turun kerja bersama masyarakat seperti mengadakan gotong royong bersama dengan beberapa lingkup RT dibeberapa tempat. Kegiatan mereka yang seperti itulah yang dinamakan sandiwara diawal. Kami tak butuh sandiwara, kamu butuh realita yang sebenarnya!
Setiap pemimpin selalu mempunyai visi misi yang akan dijalankannya ketika ia telah mendapatkan jabatannya. Sebelum itulah terkadang pemimpin terlalu banyak bersandiwara kepada masyarakatnya. Dari kalangan atas hingga kalangan menengah kebawah akan ia jelajahi demi kepemilihan kepemimpinan yang baru dan ingin ia peroleh. Entah apa yang ada didalam fikiran mereka untuk menginginkan maupun mengelola kota, provinsi, ataupun negeri ini. Sandiwara dan bincangan manis yang ia paparkan pun tak segan-segan menarik hati kita. Perkataannya yang begitu manis telah membumbui hati khalayak luar hingga terpikat kepadanya.
Perkataan manis dari mana yang mereka buat sampai memikat hati masyarakat pun kita tak tau. Entah belajar darimana sandiwara yang mereka peragakan sebelum menjabat pekerjaan yang mereka inginkan itu. Kami semua manusia yang berakal, berbudi luhur dan pekerti, mempunyai moral dan agama. Kami menginginkan pemimpin yang tak hanya umbar janji manis dan perlakuan kritis yang sesaat. Kami membutuhkan pemimpin yang tau akan pemanis kata yang tak kami butuhkan, namun pergerakan yang ia lakukan buat kami itu mengubah hidup kami. Kami menginginkan pemimpin tak obral sandiwara kebijakan.
Pemimpin yang kami harapkan selama ini adalah pemimpin yang melaksanakan apa yang ia janjikan. Pemimpin yang tak hanya memikirkan dirinya sendiri atau biasa disebut egois. Kami ingin pemimpin mengerti apa yang kami inginkan apa yang kami harapkan. Ya, perubahan dan perbaikan ekonomi kami, menaikan taraf derajat dan martabat Indonesia di kancah internasional, memperbaharui sumber-sumber daya yang telah rusak. Memperluas lapangan kerja. Memperkuat keamanan dari segala muara bahaya yang mengancam negeri maupun masyarakat di Indonesia. Tegakan keadilan yang ada. Yang salah tetaplah salah, yang benar tetaplah benar. Jangan jadikan semua itu menjadi hal kebalikan dan membuat rakyat Indonesia yang tak bersalah terjerumus dalam lobang yang tak seharusnya menjatuhkan dirinya. Tak ada kata “dimana ada uang, disitu ada jalan”. Kami membutuhkan “dimana ada keadilan dan kebenaran fakta, disitu kami membenarkan”. Tak ada lagi tipu daya muslihat dari politikus yang menggenggam banyak recehan. Pajak tetaplah pajak, pajak tetaplah harus dibayar tanpa mengurang-kurangi biaya yang ada. Tanpa mengada-ada data yang ada. Perbedayaan budaya biarkanlah menjadi ragam dan budaya, bukan menjadi ajang perkelahian dan pemutus silahturahmi antar warga dan masyarakat sekitar. Pendidikan merata tanpa pandang bulu. Kesehatan bagi seluruh warga, penyakit yang segera diatasi, tanpa memikirkan bisnis didalamnya. Korupsi bukanlah budaya kami, kami tak pernah sedikit pun mencantumkan bahwa korupsi budaya Indonesia. Kami butuh pemimpin yang tak memikirkan “bisnis” didalam pekerjaannya.
Pemimpin tetaplah memimpin, mengarahkan bawahannya untuk mengerjakan sebagian dari pekerjaanya dalam mencapai tujuan. Menuntun bawahannya kejalan yang benar, mengatur kepemerintahannya dengan baik. Mengatur bawahan dengan baik dan benar, mengarahkannya akan membuat kepemimpinan menjadi lebih mantap. Pemimpin yang baik harus bisa mengendalikan orang-orang dalam bagiannya, agar apa yang ia rencanakan bersama anggotanya dan juga masyarakat luar, bisa berjalan seperti yang ia inginkan maupun orang lain inginkan.
Masyarakat Indonesia tak hanya krisis ekonomi sekarang ini. mereka tak hanya membutuhkan makanan untuk menghidupi dirinya sehari-hari. Kami disini juga krisis akan keadilan dengan orang-orang berkuasa diluar sana dan semena-mena kepada kami para kalangan bawahan. Mereka hanya memikirkan diri mereka sendiri tanpa memikirkan kami. Kami tak butuh orang-orang yang seperti itu. Kami juga krisis akan pendidikan dan kesehatan. Pendidikan dan kesehatan kami seperti ajang bisnis buat mereka. Siapa yang membayar itu yang didahulukan. Kami ingin ilmu dan kami juga ingin sehat. Kami para kalangan apa daya dengan uang-uang yang ada dimuka bumi ini dan tak sempat kami peroleh. Mereka para pejabat atas selalu bilang “pendidikan dan kesehatan bagi seluruh rakyat tanpa terkecuali” namun nyata yang kami peroleh sungguh berbeda jauh dari yang mereka bilang. Kami butuh realita, bukan umbar janji dan obral sandiwara semata!
- See more at: http://siperubahan.com/read/2844/Kami-Butuh-Realita#sthash.8psHx8Zj.dpufKita Butuh Realita