Selamat Hari Ibu...
Iya. Selamat hari Ibu. Untuk hati ini yang terdalam, ingin sekali untuk mengulang tanggal ini sebelum ibuku tiada. Ingin sekali untuk mengucapkan kedua kalinya sebelum ia menutupkan matanya. Hati ini terasa keluh. Sakit rasanya menahan rindu kepada ibu.
Pernahkah kamu berfikir bahwa esok ibumu akan tiada?
(21 Desember 2012)
Hari itu aku dan ayahku sedang perjalanan menuju Balikpapan. Dari Bontang mungkin ada 5jam. Ditambah dengan macet dan semacamnya mungkin ada 6jam. Hari itu terasa sangat runyam. Macet. Iya. Jam terbang untuk ke Surabaya pukul 21.00 WITA.
Tak hanya diperjalanan menuju Balikpapan. Dibandara pun kendal menghampiriku. Delay. Ya pesawat kami di delay. Delay diluar maupun didalam pesawat. Iya, kita sudah sangat lama menunggu di ruang tunggu, ketika masuk pesawat kita tetap menunggu. Emosi tak terkendali. Saat itu, aku tak tau apa yang ayahku fikirkan. Hanya satu percakapan yg membuatku bertanya-tanya ada apa sebenernya.
"Jangan beri saya apapun kabarnya. Biarkan saya berjalan dengan tenang ketempat tujuan"
Aku hanya terbungkam diam ketika mendengarnya.
Sesampai dibandara, kendala pun masih datang menghampiriku. Charter-an ku membuatku menunggu sangat lama. Ayahku mulai kesal. Jam menunjukkan pukul 23:39 WIB. Kantuk dimata ini tak terasa karna ketegangan ayahku yang kulihat. Kami memutuskan untuk menggunakan bus. Tetapi kendala itu tak berhenti sampai disini....
PRAAKKKKKKKK!!!
suara pecahan kaca dan guncangan bus terjadi. Bus yang kutumpangi tertabrak dengan bus yang berusaha membalap bus yg kutumpangi. Takut. Iya, tapi kututupi ketakutan ini.
Dengan tekad demi menemui ibuku, kami berusaha untuk tetap mencari bus yang ada.
22 Desember 2012, 01.35 WIB
Aku dan ayahku pun menemukan bus. Walaupun harus berdesakan tapi tak papa. Ayahku memelukku dengan erat agar aku tidak terjatuh dari desakan yang ada didalam bus ini. Posisiku pun juga berada di pintu bus yang terbuka lebar. Menahan lelahnya dari Bontang - Balikpapan lalu dilanjutkan dengan naik bus ke Tulungagung dengan perjuangan seperti ini membuat aku semakin lelah. Mata ini mulai berat ingin memejamkan sejenak. Tetapi apa daya jika aku bertidur sambil berdiri dengan desekan seperti ini. Sejam kemudian akupun bisa mendapatkan tempat duduk bersama ayahku. Ya, tepat disebelah kiri ku jendela yang terbuka. Setidaknya jika tak ber-AC ada angin yang masuk dari luar.
-------------------------------
22 Desember 2012, 06.00 WIB
Perlahan aku membuka mataku dan mengumpulkan semua nyawaku. Terasa semilir angin dari luar dan sejuknya embun pagi desa. Tulungagung.
Mimpi buruk.
Tak ada seorang pun yang ingn kehilangan orang yang ia sayangi. Sekali lagi kuingatkan. Apakah kalian pernah berfikir bahwa esok ibu kalian tiada? tentu tidak. Dan pernahkah kalian bayangkan bahwa ibu kalian akan menutup dan menghembuskan nafas terakhirnya didepan kalian? Tentu tidak. Siapa yang mau seperti itu? Tidak ada.
Tepat dihari ibu, pukul 17.00 WIB ibuku pergi didepan mata ayah, kakak, bude, pakde, dan aku. Tepat sebelah kanannya kakak dan aku, sebelah kiri ayahku. Awalnya menahan tangis itu susah. Tapi apa daya jika semuanya menangis. masih kuingat jelas, aku berusaha mengucapkan "Selamat hari Ibu" yang sebelumnya tak pernah kuucapkan selama aku hidup bersama ibuku. Maafkan anakmu ini yang baru saja mengucapkannya setelah kau menutup mata untuk selamanya.
memang benar, penyesalan itu selalu datangnya di akhir. Sedih. Sangat sedih rasanya jika aku harus meningat wajah ibuku. Badannya kurus, sangat kurus. Kanker itu sangat jahat. Tubuh ibuku semakin kecil tak berdaya karna kanker itu. Makan dan menelan setegak air pun tak bisa. pernah kau lihat bahwa ibumu harus kau usapi dengan setetes air? Ya , benar ini setetes air yang betul-betul setetes. Hanya susu asupan gizi ibuku sebelum ia meninggalkanku. Padahal beberapa bulan yang lalu ibuku masih bisa berjalan keliling kampung, menaiki motor keliling kota. Pernah akan berfikir tentang ajal yang bisa menjemput bu atau dirimu kapan saja? Tentu tidak. Aku masih ingat ketika ibuku sudah tidak kuat untuk berdiri dan berjalan. Seberusaha mungkin ia harus bisa jalan, ia pun meminta tolong padaku sebagai tumpuannya. Kakinya seperti mati rasa. Digerakkan maupun dicubit pun tak terasa. Ia menangis didepanku. Disaat itu aku dan ibuku yaki bahwa ibu pasti bisa melewati ini. Ibuku selalu memberiku pesan.Disaat ibuku memberiku pesan, ia selalu saja tak berhenti menangis. Ia selalu takut jika ia nanti tak bisa menemaniku sampai aku dan kakakku lulus kuliah. Dan ya, itu terjadi. Kakakku belum lulus kuliah dan aku belum lulus SMP dan buku tiada sekejap didepan mataku. Dengan hembusan nafasnya yang santai dan menutup mata seperti orang tertidur. Percaya tak percaya aku melihat ibuku meningal didepan mataku. Aku merasa ibuku tak meninggal. Semakin sakit rasanya melihat orang-orang sekelilingku ikut menangis. Menit-menit terakhirk bersama ibuku, aku hanya bisa mengelus rambut dan melihatnya. Orang-orang disekelilingku hanya melihatku dengan tampan sedih dan kasihan kepadaku dan kakakku. Ingin rasanya berteriak sekuat-kuatnya disaat itu. Tapi aku tak bisa berteriak dan hanya bisa mengucapkan "Selamat Hari Ibu" dengan sangat terlambat itu. Bu, maafkan menjadi anak yang jahat ini. Selalu gengsi hanya untuk mengucapkan Selamat kepadamu. Dulu, sering sekali kau memelukku dan terkadang aku menolaknya, tapi kini...biarkan saja kau memelukku, berusahalah sekuat tenagamu agar kau memelukku. Ibu, kuatkanlah dirimuuu.
Dulu juga aku ingat ketika ibuku mandi. Dulu ibuku masih kuat untuk berjalan kekamar mandi. Tetapi, beberapa bulan kemudian. berusaha ke WC untuk buang air besar pun tidak bisa. Sedih melihat orangtuamu harus melakukan semua aktivitasnya di atas kasur.
Jangan pernah kau membuat tangis dimatanya, dengarkanlah nasihatnya. Jangan sakiti ibumu, fisik maupun batin. Karna penyesalanmu akan berada diakhir.
----------------------------
bu, dua tahun sudah kau pergi. selalu kuingat tanggal dan bulan ini. dimana kau pergi secepat ini. sesusah apapun yang kau alami didunia ini. tetapi aku yakin, dirimu pasti berada ditempat terindah dan ternyaman. bu, aku rindu padamu. terkadang dalam sepiku, aku memikirkanmu. mengapa ibuku harus pergi secepat ini? aku ingin ibuku. terkadang iri rasanya melihat anak-anak yang lain masih bisa merasakan masakan ibunya, sedangkan aku tidak. iri rasanya bisa berfoto bersama ibunya dan aku tidak. iri rasanya ketika kelulusan bersama kedua orangtuanya dan aku tidak. iri rasanya dijemput orangtua dan aku tidak. iya, begitu banyak iri dihatiku. ingin berjalan bersamamu lagi. Selamat Hari Ibu...ibuku yang cantik berada di surga sana:)