sebutir cerita

aku tidak tau apa yang terfikirkan sebelumnya, aku juga tak pernah mau ini terjadi, salah satu yang harus aku lakukan hanyalah ikhlas.
aku bingung, kenapa ini terjadi pada dirinya, kenapa tidak aku saja, kenapa harus dia yang mengalaminya. cukup banyak perjuangan hidupnya buatku, dan sedangkan aku, aku belum ada kasih apapa kedia. aku merasa akulah yang lebih cocok daripada dia.
semua orang hanya bisa memeluk dan membelai kepalaku dengan halus untuk menenangkanku. tak pernah kusangka, disaat kami berkumpul, disaat kami harusnya bercanda tawa berbagi cerita dan beribadah bersama , hal yang tak diinginkan pun terjadi. aku tak bisa mengelak, aku tak bisa menolak, mau gak mau aku haru menerimanya, mengikhlaskannya. kini aku hanyalah bisa mendoakannya dan berusaha memberikan yang terbaik buatnya disana. 
aku adalah anakmu, dan dirimu adalah Ibuku. Ibuku yang melahirkanku, yang menggendongku, yang merawatku, yang menyayangiku, yang selalu bersamaku dan selalu mengerti tentangku, kini semua telah tiada. kini hanyalah sebuah kenangan manis yang terukir lembut didalam fikiran dan otakku. aku hanya bisa mengingat kembali, dan untuk merasakannya aku hanya bisamenggunakan hatiku, hatiku yang selalu tersentuh ketika mengingatnya. hatiku yang selalu merasa dekat ketika diriku memanggil namamu, Ibu. 
aku tau, diriku masih sangatlah tidak mempunyai bekal atau apapun itu. aku tau, diriku yang masih sangatlah berlumur dosa dan belum bisa membahagiakanmu. tetapi, kenapa semua ini begitu cepat? aku masih ingin melihat senyumannya ketika memandangku dengan berlumur prestasiku, aku ingin ia memelukku dengan erta ketika aku rapuh, aku juga ingin dia bersamaku. aku rindu akan sosoknya, aku rindu akan semua tentang dirinya. doaku akan selalu menyertaimu bu, jasamu akan selalu aku kenang selamanya. 
Bu,aku yakin, sekarang pasti Ibu lebih bahagia,Ibu lebih tenang dan tidak merasakan sakit yang menggrogoti badanmu. aku yakin, Allah selalu memberikan yang terbaik buat umatnya yang selalu menyembahnya, dan Ibu termasuk didalamnya. 
memang, iri rasanya ketika semua anak masih bisa bersama, berkumpul dengan keluarga yang lengkap dan sedangkan aku hanya bisa memandangnya. hatiku tersentuh, mataku menteskan tetesan air yang tak sengaja terkeluar. terlukis, tetesan air itu dipipiku, aku usap lagi, aku bentuk bibirku dengan sebuah lekukan kecil dan aku berkata "Ibu, aku yakin, dirimu, pasti ada disampingku dan selalu bersamaku, menemaniku ketika sendiri, memelukku lagi ketika aku rapuh, dan tersenyum lebar dihadapanku"
sayang, aku tak melihat itu, aku....hanya bisa....merasakannya..dihatiku, aku merasakan itu, merasakan sentuhanmu dan belainmu,Ibu:')


13 Juni 1969 - 22 Desember 2012
(almh) Lilik Warsini


ketika semua anak merayakan hari Ibu bersama ibunya, akupun juga....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar