Sabtu, 21 Desember 2013

seuntai rindu untuk Ibu

selamat pagi Ibu, apakah disana matahari berwarna sendu? Ini anakmu
anakmu yang telah kau didik, kau besarkan dan kau bimbing
selamat pagi bu, apakah dirimu masih ingat ketika kita bersama?
berkumpul bersama, bercanda tawa dengan Ayah dan Kakak
sedih, senang, duka, kita lalui bersama

Ibu...
masih ingatkah kau denganku?
anak kecilmu yang selalu bertingkah menjengkelkan, menyebalkan
tetapi apakah dirimu ingat?
dirimu tetap sabar, dirimu tetap memberikan senyuman indahmu
terus membimbingku untuk menjadi lebih baik

Ibu...
masih jelas difikiranku
masih teringat jelas wajahmu, bayangmu yang selalu menghantui hari-hariku
masih terasa kehangatan dari tubuhmu
masih terngiang alunan suaramu yang lembut, menggema ditelingaku
dan masih teringat, senyuman hangat yang selalu kau suguhkan kepadaku

dan apakah Ibu tau?
aku rindu saat-saat itu
aku rindu disaat semua itu ada
aku ingin semua yang kita lalui bersama terulang kembali

kau usap kepalaku dengan lembut
kau kecup kening ini dengan mesra
kau peluk aku, kau dekap aku dengan penuh kehangatan
kau hampar selimutku, ketika malam tlah tiba
ya, dirimu memang selalu ada untukmu

Ibu...
kepergianmu begitu cepat bagiku
semua senyumku kini berubah menjadi tangis yang tak henti
sekarang apa?
kita sekarang tlah berbeda alam
belum sempat diriku membuatmu bangga terhadapku
Bu, maafkan anakmu yang tak sempurna ini,Bu

dan sekarang, ku hanya bisa mengenangmu
mengenang ketulusan hatimu terhadapku
mengenang semua cerita yang kita lalui bersama
waktu mengingatkanku bahwa dirimu memang bukan milikku
tetapi Tuhan memang memilikimu

Bu...
terimakasih, terimakasih atas segalanya yang kau berikan kepadaku
kini kau telah memberikan sebuah pelajaran terhadapku
didunia tak ada yang kekal maupun abadi
dan dirimu, tlah membuatku belajar menjadi anak yang tegar, sabar, dan ikhlas
memang, sekarang kita sangatlah jauh
tetapi aku yakin,walaupun Ibu tlah tiada
Ibu akan selalu berada disisiku
selalu mengikutiku dan akan selalu ada didalam hatiku


untukmu yang kucinta dan kusayangi
Ibuku, semangatku

Selasa, 23 Juli 2013

penyesalan(?)

Sudah beberapa hari ini, hujan mengguyur kotaku. Kota tercintaku dimana aku berpijak sekarang. Setiap pagi sepiku disambut oleh datangnya hujan yang ramai riuh datangnya. Hari sepi, iyaa, aku masih tetaplah sendirian, aku masih bersama bulekku setiap malam, aku masih bersama temantemanku disaat pagi(sekolah), dan aku masihlah tetap semangat.
Dihari sepiku, aku lebih banyak meluangkan waktu dikamar. Terkadang, sekilas aku terbayang akan masa-masa lalu yang rutin aku lakukan. Terbayangkan akan masa indah yang aku lalui bersama, masa dimana terkadang aku menjadi anak yang menyebalkan dan ingin berubah menjadi anak yang solehah. Satu kata yang singkat, padat, jelas, dan terukir kasar menumbuhkan sejuta penyesalan adalah "kenapa kemaren aku kayak gitu?" Ukiran penyesallan ini masih saja tersimpan dalam benatku. Dan aku masih berusaha memperhalus ukiran itu dengan gosokkan yang lembut, perlahan tapi pasti. Ketika aku mengingat kembali, masa masa yang lalu, masa masa dimana aku selalu membantah kata orangtua dan berujung dengan penyesalan, satu kata yang mematung dikepalaku "bodoh". Iyaa, aku merasakan betapa bodohnya aku yang tidak mendengarkan kata orang tua dan berujung dengan penyesalan yang masih belum tau ujungnya. Aku ingin merubah ukiran kasar ini, tapi....terlambat. kata merubah itu sudah sangatlah terlambat, basi, omong kosong, kenapa gak dari dulu coba merubahnya, jah? Hatiku bergelumat kekesalan yang percuma, ingin menjerit tapi percuma, ingin menangis tapi untuk apa? Percuma, jah. Sekeras apapun kamu menjerit, sederas apapun kamu menangis, tak ada yang mendengarmu jah, tak ada yang mau. Karna, kamu menangisi penyesalan. Ini semua salahmu, kenapa tidak dari dulu menganggap setiap menjalani kesalahan kamu harus lakukan perubahan segera. Kenapa juga tidak daridulu menganggap bahwa setiap perjalanan hidup itu cukuplah sebentar? Kenapa tidak daridulu............ Penyesalan yang kamu buat itu cukup berat,jah. Karna apa? Penyesalan yang kubuat adalah penyesalan karna sikapku terhadap almh.Ibuku
Aku yang dulu terkadang berbohong,
Aku yang terkadang membantah,
Aku yang terkadang tidak nurut,
Aku yang terkadang menyebutkan 'ahh sbentar, ahh sibuknah, dan ahh yang lainnya'
Aku yang sangatlah malas jika disuruh membantu
Aku yang tidak pengertian terhadap ibuku sendiri
Aku, aku, aku yang menyesal sekarang karna telah melakukan itu dan ingin merubah tetapi ketika aku ingin menunjukan perubahan agar orang itu memaafkanku orang itu telah lah tiada. Memang, semua ibu selalu memaafkan kesalahan anaknya, seorang ibu yang selalu sayang terhadap anaknya, yang selalu membela anaknya, dan tak mau anaknya susah. Dan sedangkan aku, aku yang menyusahkannya. Sungguh, anak durhaka kah aku termasuk didalamnya? Naudzubillahiminzalik ya Allah, maafkan lah hamba mu ini, sungguh diriku khilaf ya Allah
Dan kini, penyesalan itu sedikit menjadi lebih halus dari sebelumnya. Jika bisa aku balik ke masa lalu, takkan pernah ada penyesalan ini datang ke kehidupanku sekarang Satu satunya sekarang ini aku terus berdoa, aku terus berusaha lebih mendobrak diriku yang lalu menjadi diriku yang lebih baik dari sbelumnya. Jika aku tak bisa membahagiakannya ketika ia hidup, jadi aku tak boleh mengulang ke kedua kalinya di orang tuaku yang satunya, yaitu bapakku....